Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya
(Mazmur 28:7)
(Mazmur 28:7)
KU TAK KAN MENYERAH
Suatu hari saya mengamati sebuah pohon. Daunnya hijau, segar. Daun-daun itu
bertumbuh: makin lebar, makin panjang, makin tua. Ada yang mengilap, ada
yang berlubang, tetapi masih terus bertumbuh. Pengamatan ini ternyata
sangat bermakna bagi saya. Bukankah hidup iman kita mirip daun-daun itu?
Selama kita melekat kepada Kristus, kita bagai daun yang bertumbuh dan
mendapat makanan dari pohonnya. Namun, apabila kita menjauh dari-Nya, maka
kita bagai daun yang dipetik lepas dari pohon. Mungkin masih terlihat
hijau, tetapi sudah tak ada pertumbuhan, dan tak lama lagi akan mati.
Daud, meskipun beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidupnya, tetap
berusaha untuk kembali melekat kepada Tuhan. Ketika ia harus menghadapi
pengalaman yang berat dan sulit, salah satunya saat ia dikejar-kejar Saul
dan pasukannya, Daud mengungkap bahwa kekuatan sejatinya ialah Tuhan (ayat
7). Ia mengaku bahwa tanpa Tuhan, ia tidak akan kuat menanggung
persoalan-persoalan di hadapannya. Daud tidak memiliki banyak senjata,
tetapi Tuhanlah yang menjadi perisainya. Tanpa Tuhan, tidak ada yang
sanggup melindunginya dari serangan musuh. Daud terus berjuang. Dan, ia
tidak menyerah sebab ia tahu kekuatannya ada pada Tuhan (ayat 8).
Bagaimana dengan kita? Apabila ada persoalan berat di depan kita, apa yang
menjadi kekuatan atau senjata kita? Apabila akhirnya kekayaan, kesehatan,
kedudukan, kemampuan istimewa, dan hal-hal lain yang terbatas tak lagi
mampu menolong kita, jangan menyerah. Selama kita terus melekat pada
Kristus, Dia ada dan patut kita andalkan
Suatu hari saya mengamati sebuah pohon. Daunnya hijau, segar. Daun-daun itu
bertumbuh: makin lebar, makin panjang, makin tua. Ada yang mengilap, ada
yang berlubang, tetapi masih terus bertumbuh. Pengamatan ini ternyata
sangat bermakna bagi saya. Bukankah hidup iman kita mirip daun-daun itu?
Selama kita melekat kepada Kristus, kita bagai daun yang bertumbuh dan
mendapat makanan dari pohonnya. Namun, apabila kita menjauh dari-Nya, maka
kita bagai daun yang dipetik lepas dari pohon. Mungkin masih terlihat
hijau, tetapi sudah tak ada pertumbuhan, dan tak lama lagi akan mati.
Daud, meskipun beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidupnya, tetap
berusaha untuk kembali melekat kepada Tuhan. Ketika ia harus menghadapi
pengalaman yang berat dan sulit, salah satunya saat ia dikejar-kejar Saul
dan pasukannya, Daud mengungkap bahwa kekuatan sejatinya ialah Tuhan (ayat
7). Ia mengaku bahwa tanpa Tuhan, ia tidak akan kuat menanggung
persoalan-persoalan di hadapannya. Daud tidak memiliki banyak senjata,
tetapi Tuhanlah yang menjadi perisainya. Tanpa Tuhan, tidak ada yang
sanggup melindunginya dari serangan musuh. Daud terus berjuang. Dan, ia
tidak menyerah sebab ia tahu kekuatannya ada pada Tuhan (ayat 8).
Bagaimana dengan kita? Apabila ada persoalan berat di depan kita, apa yang
menjadi kekuatan atau senjata kita? Apabila akhirnya kekayaan, kesehatan,
kedudukan, kemampuan istimewa, dan hal-hal lain yang terbatas tak lagi
mampu menolong kita, jangan menyerah. Selama kita terus melekat pada
Kristus, Dia ada dan patut kita andalkan
KRISTUS MENEBUS KITA DENGAN MENCUCURKAN DARAH
AGAR KITA TAK MENJADI ORANG YANG MUDAH MENYERAH



























0 komentar:
Posting Komentar
Please comment in here.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog chencha.