RSS

Senin, 22 Februari 2010

Menghilangkan Windows Genuine Advantage di Computer

Windows Genuine Advantage memang kadang membuat kita ribet dalam menghidupkan computer. Kadang Wallpaper juga sering hilang. Berikut Chen kasih solusinya buat ngilangin Windows Genuine-nya.
Awalnya sih Chen ga masalah dengan munculnya peringatan dari Windows itu. Tapi lama lama risih juga sih.... Tips ini udah Chen buktikan dikomputer kantor yang udah kena Windows genuine juga. Buat kamu yang merasa risih juga
Coba deh ikutin langkah langkah dibawah :
  1. Buka Folder system32 yang ada di C:\Windows\System32
  2. Cari File wgalogon.dll kalo udah ketemu, kamu ganti namanya jadi wgalogon.dll.bak
  3. Klik kanan di bagian yang kosong (masih di dalam folder system32) pilih New - text document simpan dengan nama wgalogon.dll
  4. Cari file wgatray.exe, kamu ganti namanya jadi wgatray.txt
  5. Klik kanan lagi di bagian kosong, terus pilih new - Text document. Ganti namanya menjadi wgatray.exe
  6. Cari LegitCheckControl.dll di dlm folder System 32, gantii namanya menjadi legitcheckcontrol.dll.txt. Terus buat text document dengan nama legitcheckcontrol.dll 
  7. Nonaktifkan Automatic Update dengan cara klik kanan di My Computer - klik Tab Automatic Update - pilih Turn Off
  8. Restart Computer anda  
 Windows Genuine-nya udah hilang dari layar computer anda.

Kebiasaan Sepele Yang Bisa Menyebabkan Otak Rusak

Nurul Ulfah - detikHealth


Jakarta, Otak adalah organ tubuh yang paling vital dan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Jika manusia diibaratkan sebuah komputer, otak adalah prosesornya. Tapi tanpa disadari, setiap harinya otak bisa mengalami kerusakan dari kebiasaan hidup sehari-hari.

Seperti dilansir Calorielab, Kamis (11/2/2010), otak manusia terdiri lebih dari 100 miliar saraf yang masing-masing terkait dengan 10 ribu saraf lain. Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem saraf pusat.

Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.

Otak adalah penyalur energi terbesar bagi tubuh. Meski ukuran otak hanya sebesar 2 persen dari keseluruhan berat badan manusia, tapi seluruh kegiatan tubuh dikontrol olehnya. Artinya jika berat badan seseorang 60 kg, maka berat otaknya sekitar 1,2 kg. Hampir 75 persen otak manusia terdiri atas air.

Hanya sekitar 10% fungsi otak yang difungsikan oleh manusia, dengan demikian seharusnya masih banyak potensi otak yang belum diolah oleh manusia. Apalagi kekuatan kompetensi otak adalah sekitar 1013 - 1016 operasi per detik.

Untuk itulah otak perlu dijaga dan dirawat, jika tidak penyakit-penyakit yang merusak otak pun bisa terjadi. Seperti dikutip dari Healthmad, Kamis (11/2/2010), berikut ini 10 kebiasaan sepele yang menyebabkan otak menjadi rusak, yaitu :

1. Tidak sarapan
Mereka yang tidak sarapan akan memiliki kadar gula darah yang rendah. Hal ini akan memicu ketidakcukupan nutrisi pada otak padahal otak butuh nutrisi yang cukup untuk tetap bisa bekerja. Akibat kurang suplai nutrisi terutama glukosa, akhirnya kemampuan otak akan cepat menurun.

2. Makan berlebihan
Sikap yang terlalu berlebihan bisa mengeraskan pembuluh darah di otak yang akhirnya dapat menurunkan kekuatan mental.

3. Merokok
Semua orang tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan dan ada banyak dampak buruk yang dihasilkan bagi organ tubuh jika merokok. Khusus untuk organ otak, merokok bisa menyebabkan otak menyusut dan memicu penyakit pikun atau Alzheimer. Sel-sel saraf akan menyusut pada bagian hippocampus dan korteks depan yang berfungsi menyimpan ingatan.

4. Konsumsi gula berlebih
Terlalu banyak mengonsumsi gula akan mengganggu proses penyerapan protein dan nutrisi sehingga tubuh akan mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) dan akhirnya mengganggu perkembangan otak.

5. Polusi udara
Otak adalah organ yang mengonsumsi oksigen paling banyak dari tubuh. Menghirup udara yang penuh polusi akan mengurangi suplai oksigen ke otak dan akhirnya mengurangi efisiensi otak dalam bekerja.

6. Kurang tidur
Tidur akan membuat otak berisitirahat. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama sama saja dengan membunuh sel otak perlahan-lahan karena otak terus dipaksa untuk tetap menyala padahal otak juga butuh istirahat.

7. Menutup kepala saat tidur
Tidur dengan kepala ditutup bantal misalnya, akan meningkatkan konsentrasi karbondioksida ke otak. Saat bernafas dengan kepala tertutup, karbondioksida hasil bernafas akan masuk kembali ke dalam tubuh dan hal itu sangat berbahaya.

8. Tetap bekerja dalam keadaan sakit
Memaksakan diri untuk bekerja atau belajar dalam kondisi sakit sangat tidak baik untuk otak dan akan merusak sel-sel otak.

9. Jarang berbicara
Percakapan akan membantu seseorang untuk terus mengaktifkan sel-sel otaknya, apalagi percakapan yang berbau intelektual. Orang yang jarang berbicara akan membiarkan sel-sel otaknya mati perlahan-lahan karena tidak pernah mengaktifkannya.

10. Jarang menstimulasi pikiran
Berpikir adalah cara paling baik untuk melatih otak. Kurang menstimulasi otak dengan berbagai hal akan menyebabkan otak menyusut. Sel-sel otak akan mati karena tidak ada sesuatu yang membuat otak berkembang.

Penyakit yang berhubungan dengan otak antara lain ketidak mampuan berkomunikasi (Asperger syndrome), trauma atau kerusakan batang otak (traumatic brain injury), keterbelakangan mental (Down syndrome), epilepsi, autisme, ganguan kejiwaan (psychiatric disorders), penyakit disorientasi otak (Alzheimer), kelainan otak kronis yang mengganggu pergerakan (Parkinson), kelumpuhan (Paralyses), kerusakan atau kematian sebagian otak (partial brain degenerative disorder), Szhizoprenia dan lainnya.

Pengobatan yang biasa diterapkan untuk penyakit-penyakit otak adalah menggunakan obat-obatan dan terapi psikis. Tapi kini peneliti dan para ilmuwan sedang giat mengembangkan teknik pengobatan terapi gen dan stem cell yang diyakini dapat memperbaiki neuron atau bagian otak yang telah rusak atau mati.

Selain itu, pengembangan virus tertentu yang telah dimodifikasi secara molekular juga menjadi alternatif baru yang sedang duji peneliti. Virus yang telah dilemahkan ini kemudian diinjeksi ke pasien dan selanjutnya akan bermanfaat memperbaiki sistem saraf yang rusak.(fah/ir)

Rabu, 17 Februari 2010

The Twilight Saga's Eclipse : Robert Pattinson dan Kristen Stewart Ciuman


Membicarakan The Twilight Saga, memang seperti tak ada habisnya. Apalagi jika menyebut nama Robert Pattinson dan Kristen Stewart, bisa-bisa dengan spontan para penggemar yang rata-rata wanita langsung menjerit histeris. The Twilight Saga, sebuah film berdasarkan novel tetralogi ini telah menyelesaikan dua filmnya, Twilight dan The Twilight Saga's New Moon. Saat ini proses yang film ketiganya, The Twilight Saga's Eclipse tengah berlangsung. Nah, disaat proses film tersebut ternyata terdapat bocoran sebuah adegan yang dilakukan. Robert Pattinson dan Kristen Stewart terlihat saling berciuman, seperti yang telah ditemukan di robsessedpattinson.com.

Dalam berita yang dikutip dari Aceshowbiz.com ini, mereka melakukan adegan tersebut dengan latar belakang padang rumput yang sama seperti foto yang dirilis sebelumnya, dua foto terbaru terlihat mereka berpegangan tangan dan memeluk satu sama lain.

Kemudian, di foto berikutnya mereka melakukan ciuman dengan berbaring di tempat tidur dengan kemeja Edward Cullen  yang dibuka beberapa kancing oleh  Bella Swan dan dengan keadaan berdiri mereka saling mendekap erat. Sedangkan Bryce Dallas Howard and Xavier Samuel adalah sebagai juru foto saat mereka melakukan adegan tersebut.



The Twilight Saga's Eclipse yang diadaptasi dari novel ketiga Stephenie Meyer's ini akan melanjutkan cerita percintaan Bella Swan. Kali ini Bella akan kembali dikelilingi oleh bahaya. Namun ditengah-tengah semua itu, dia dipaksa untuk memilih antara cintanya kepada Edward Cullen atau persahabatannya dengan Jacob Black, dimana keputusannya tersebut akan berpotensi untuk dirinya menjadi hidup abadi.

The Twilight Saga's Eclipse akan disutradarai oleh David Slade dengan naskah yang kerjakan oleh Melissa Rosenberg. Film ini dijadwalkan akan diputar di bioskop AS pada 30 Juni 2010.

Jumat, 12 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 67 (Terakhir)

Ketika dikonfrontir, Yeomjong dengan tawa liciknya langsung mengatakan bahwa yang harus disalahkan atas semua kejadian bukanlah dirinya melainkan Bidam (Kim Nam-gil) sendiri, yang disebut menyimpan ambisi tampil sebagai raja. Kali ini Bidam tidak mau lagi mengulang kesalahannya, ia langsung menusuk Yeomjong hingga tewas.
Sebelum keluar, Bidam bertemu dengan Misaeng (Jung Woong-in), yang mengatakan bahwa pria itu tidak bisa lagi menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri yang memiliki hati lemah dan mudah dipengaruhi. Sempat meneteskan air mata, Misaeng yang ditemani oleh Hajong (Kim Jung-hyun) bersimpuh didepan kuburan Mishil sambil menanti kemunculan pasukan Shilla.
Saat para tawanan tengah digiring, Yushin (Uhm Tae-woong) sadar bahwa tidak ada Bidam diantara mereka, ia langsung memerintahkan bawahannya untuk membekuk sang mantan perdana menteri. Di saat yang sama, Bidam sendiri berniat menemui Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) untuk mengakui semua dosa-dosanya. Sebelum pergi, ia berpesan pada Santak (Kang Sung-pil) supaya bawahannya yang paling setia itu pergi sejauh-jauhnya dari Shilla.
Sempat menatap kepergian junjungannya dengan hati sedih, mata Santak terbelalak karena sebuah panah tiba-tiba menembus tubuhnya. Dengan cepat, pasukan kerajaan mengelilingi Bidam, yang langsung menghunus pedangnya. Pertempuran sengit tidak bisa dielakkan dan meski cuma sendirian, Bidam ternyata terlalu tangguh bagi prajurit biasa.
Menghabisi setiap prajurit yang merintangi jalannya, tujuan Bidam ternyata cuma satu : mendatangi tempat dimana Ratu Seon Deok berada. Dihadang oleh penjagaan berlapis, Bidam tidak menggubris permintaan Yushin supaya dirinya tidak membunuh orang lagi dan terus merangsek maju. Tersenyum getir karena sadar dirinya sudah tidak punya harapan lagi, Bidam menantang Yushin untuk bertarung.
Namun, tantangan tersebut ternyata hanya kamuflase Bidam, yang sadar dirinya sudah kalah segalanya dari Yushin, untuk bisa mendekati Ratu Seon Deok. Meskipun tangguh, Bidam tidak bisa menghindar ketika puluhan anak panah terbang ke arahnya. Meski begitu, fokusnya hanya satu : berapa langkah lagi yang harus ditempuh untuk bisa mencapai Ratu Seon Deok.
Dengan mata merah dan wajah berlumuran darah, Bidam terus berjalan maju mendekati Ratu Seon Deok sehingga Yushin tidak punya pilihan lagi selain menusuk pria yang merupakan bekas sahabat sekaligus rekan seperjuangannya itu. Sebelum ambruk, Bidam menggumamkan nama Deokman untuk terakhir kalinya. Tak lama setelah menyampaikan perintah kepada para bawahannya, Ratu Seon Deok jatuh pingsan tepat disamping jenazah Bidam.
Begitu siuman, Ratu Seon Deok yang sadar umurnya tidak lama lagi memanggil Alcheon (Lee Seung-hyo) dan meminta sang pengawal setia untuk mengisi posisi perdana menteri yang ditinggalkan Bidam. Tak lama kemudian ketika Yushin datang bertamu, Ratu Seon Deok mengajak jendral kepercayaannya tersebut untuk keluar dan melihat Shilla dari atas bukit.
Di sana, Ratu Seon Deok mulai merenungi hal-hal yang telah dilewatinya dan sadar bahwa dari sekian banyak orang, cuma Yushin yang setia menemaninya hingga akhir. Menitipkan Shilla dan cita-cita penyatuan Tiga Kerajaan pada Yushin, Ratu Seon Deok menceritakan mimpi terakhirnya yang begitu berkesan.
Puluhan tahun berlalu, Yushin kembali ke Shilla setelah menaklukkan Baekje dan bertemu dengan Alcheon yang tengah bersiap memasuki masa pensiun. Bagamana dengan nasib Ratu Seon Deok? Rupanya tak lama setelah menceritakan mimpinya, sang ratu mencucurkan air mata dan menarik napas untuk terakhir kalinya...sebelum kemudian wafat.
Dalam mimpinya, Deokman (Nam Ji-hyun) yang tengah berusaha melacak keberadaan Munno berjalan di tengah pasar dan bertemu dengan seorang wanita berpakaian putih yang tiba-tiba memeluknya sambil bercucuran air mata. Rupanya, wanita berpakaian putih yang diam seribu bahasa itu adalah Deokman dewasa alias Ratu Seon Deok sendiri, yang cuma bisa berbicara dalam hati mengasihani sosok remajanya yang bakal mengalami begitu banyak penderitaan.
Sudah tentu, aksi wanita dewasa dihadapannya membuat Deokman remaja bingung, ia memutuskan untuk tidak menghiraukan kejadian tersebut dan meneruskan petualangannya. Dari belakang, sang ratu cuma bisa mendoakan dirinya yang masih remaja untuk bisa bertahan karena hanya lewat Deokman-lah maka Shilla bisa memenuhi impian besar yang tidak bisa dilakukan siapapun : menyatukan Tiga Kerajaan.(indosiar.com/mdL)


TAMAT

Kamis, 11 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 65

Meski sudah ditodong oleh sebilah pedang, Yeomjong tertawa terbahak-bahak. Menyebut bahwa Bidam (Kim Nam-gil) sudah tidak punya tempat lagi karena Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) dan para prajurit Shilla telah memburunya, satu-satunya opsi pria itu adalah berkumpul kembali dengan para pengikutnya.
Di tengah provokasi Yeomjong, Bidam terus berjalan dengan terhuyung-huyung, ia masih belum bisa menerima kalau Ratu Seon Deok yang begitu dipercayai dan dicintainya telah mengingkari kesepakatan. Sambil menggenggam cincin yang pernah diberikan sang ratu, Bidam tidak sadar bahwa di saat yang bersamaan, Ratu Seon Deok mengirim Jukbang (Lee Moon-shik) untuk memberikan sebuah surat pada pria itu.
Strategi Yeomjong sukses, Bidam akhirnya memutuskan untuk kembali memimpin para pengikutnya. Berbeda dengan dugaan, Bidam memutuskan untuk menggunakan strategi jitu : tetap berada di Seorabol dan merebut pengaruh para bangsawan dan rakyat. Tujuannya cuma satu : mendongkel Ratu Seon Deok dan menguasai tahta Shilla.
Begitu tahu kalau pasukan pemberontak, tanpa tahu pemimpinnya adalah Bidam, bergerak tidak seperti yang diperkirakan, Yushin (Uhm Tae-woong) dan Kim Seohyeon (Jung Sung-mo) mengambil kesimpulan yang mengejutkan : mereka bergerak menuju Seorabol. Dengan cepat, Yushin memimpin pasukan sebanyak dua ribu orang untuk menghadapi para pemberontak.
Mampu membaca strategi lawan, Bidam langsung memerintahkan Hojae (Go Yoon-ho) untuk menyerang pasukan Yushin dan siap mundur bila diperintahkan. Ternyata tujuannya cuma satu : menguasai benteng yang ditinggalkan pasukan Yushin, yang terkonsentrasi pada pertempuran.
Wajah Ratu Seon Deok langsung berubah pucat saat tahu musuhnya menggelar strategi yang begitu lihai, dimana ada dua kekuatan yang saling bertentangan di Seorabol. Kini posisi dua kubu yang saling berhadapan hanya sekitar 15 menit perjalanan, dan apabila Ratu Seon Deok mengerahkan pasukan, perang saudara tidak bisa dihindari lagi.
Sambil tersenyum penuh kemenangan, Bidam masuk ke dalam benteng yang berhasil dikuasainya untuk menggelar strategi selanjutnya. Oleh Misaeng (Jung Woong-in), disarankan agar mereka menyebar desas-desus yang bertujuan untuk membuat rakyat mempertanyakan kekuasaan Ratu Seon Deok. Di istana, Chunchu (Yoo Seung-ho) langsung bisa menebak bahwa Bidam-lah yang memimpin pasukan pemberontak.
Dengan jabatan sebagai perdana menteri ditambah dukungan dari para anggota kongres yang memihak pada dirinya, Bidam menggelar rapat yang menyatakan mosi tidak percaya pada pemerintahan Ratu Seon Deok. Kali ni sang ratu tidak bisa menahan kesabaran lagi, ia memutuskan untuk menghadapi aksi Bidam dengan tegas.
Dibantu oleh Santak (Kang Sung-pil), Jukbang nekat menemui Bidam untuk memberikan surat dari Ratu Seon Deok karena heran melihat perubahan sikap sang perdana menteri. Begitu membaca isi surat, Bidam langsung marah besar karena mengira kehadiran Jukbang adalah bagian dari strategi Chunchu. Namun begitu melihat raut wajah sang penasehat ratu, Bidam mulai ragu-ragu.(indosiar.com/mdL)

The Great Queen Seon Deok Episode 66

Kuatir kedoknya terbongkar, Yeomjong mengutus orang untuk menghabisi Santak (Kang Sung-pil). Sementara itu di istana, giliran Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) yang bingung saat diceritakan kalau Bidam (Kim Nam-gil) mengira dirinya menyuruh orang untuk menghabisi sang perdana menteri.
Berbagai kejadian yang begitu mengejutkan membuat kondisi fisik Ratu Seon Deok langsung merosot tajam. Ketika Yushin (Uhm Tae-woong) menghadap, Ratu Seon Deok menceritakan ketidakberdayaannya yang meski sadar kalau Bidam dijebak oleh Yeomjong, ia tetap tidak mampu membela sang pria yang dicintai. Melihat dilema yang dialami sang junjungan, Yushin hanya bisa menatap dengan perasaan sedih.
Meski berat, Ratu Seon Deok akhirnya mengirimkan perintah yang tegas : Bidam dan para pengikutnya harus dihukum mati. Sama-sama memutuskan untuk mengerahkan pasukan, dua orang yang saling mencintai akhirnya harus saling berhadapan dengan taruhan nyawa.
Dengan suara keras, Ratu Seon Deok berpidato untuk memompa semangat tempur pasukannya pasukan. Namun dibelakangnya, Alcheon (Lee Seung-hyo) menatap sang ratu dengan wajah kuatir karena demi melihat wajahnya yang pucat dan keringat yang terus menetes dari dahi wanita penguasa Shilla itu.
Setelah berbicara di depan pasukan, Ratu Seon Deok tiba-tiba nyaris terjatuh saat hendak kembali ke istana. Keruan saja, hal ini membuat Alcheon, Yushin, Chunchu (Yoo Seung-ho), dan Kim Seohyeon (Jung Sung-mo) kuatir.
Bertepatan dengan ambruknya sang ratu, bintang yang berada di atas istana tiba-tiba jatuh dan menghilang. Langsung dianggap sebagai pertanda kalau kekuasaan Ratu Seon Deok sudah mencapai akhir, kesempatan itu digunakan Bidam untuk mengobarkan semangat pasukannya.
Saat tahu kalau penyakit Ratu Seon Deok sudah lama diketahui tabib, Yushin dengan wajah kuatir berusaha mencari tahu. Namun, sang ratu malah berbicara tentang mimpinya bertemu dengan seorang wanita berpakaian putih yang tiba-tiba memeluknya sambil meneteskan air mata. Kuatir kalau Ratu Seon Deok mulai mengigau, Yushin diingatkan oleh Alcheon untuk mengurungkan niatnya bertanya tentang penyakit sang putri.
Begitu diberi ijin untuk mengerahkan pasukan, Yushin mulai menyusun strategi. Meski sempat diserang, Bidam mengira kalau apa yang dilakukan Yushin adalah demi memancing pasukannya keluar sarang. Perkiraannya salah besar. Tiba-tiba terjadi kehebohan di luar markas musuh, bintang yang semula jatuh kembali ke langit.
Sempat terpukau dengan strategi tersebut, Bidam baru sadar bahwa selain menurunkan moral pasukan, bintang tersebut merupakan isyarat dari Yushin untuk melakukan serangan secara serentak. Munculnya Santak (Jang Sung-pil) yang membawa kabar bahwa Yeomjong adalah dalang dibalik semua kejadian membuat semangat tempur Bidam langsung sirna.(indosiar.com/mdL)

Selasa, 09 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 64

Isi surat yang menyatakan Bidam (Kim Nam-gil) bakal menjadi penguasa membuat Chunchu (Yoo Seung-ho) marah, ia langsung mengutus pasukan pimpinan Seolji (Jung Ho-geun) untuk menyelidiki bahtera misterius yang muncul di perairan Shilla dan menemukan dalang dibalik semua kejadian.
Tekanan untuk menurunkan Bidam semakin kuat, namun Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) sadar bahwa bukan sang perdana menteri yang menjadi dalang atas bahtera misterius dan surat bernada provokasi. Pasalnya sang ratu sadar, surat tersebut hanya membuat posisi Bidam semakin terjepit dan sama sekali tidak menguntungkan.
Di kediamannya, Bidam langsung memarahi seluruh pengikutnya yang telah lancang. Namun, ucapannya malah dibantah oleh satu-persatu mulai dari Jujin, Yeomjong, hingga Misaeng (Jung Woong-in), yang mengaku bahwa apa yang dilakukan adalah untuk memastikan Bidam tidak melenceng dari tujuan awal.
Kehabisan akal, Bidam meminta waktu untuk bertemu Ratu Seon Deok. Awalnya penjaga pintu tidak mengijinkan, untungnya muncul Alcheon (Lee Seung-hyo) yang langsung membantu. Di dalam ruangan, Ratu Seon Deok menyebut bahwa meski tahu kalau Bidam bukan dalang dibalik semua kejadian, namun pria itu dianggap sulit mengatur pengikutnya. Obrolan terhenti ketika sang ratu tiba-tiba merasakan nyeri di dada, wajah Bidam langsung berubah kuatir karena tahu ada yang tidak beres.
Chunchu ternyata benar-benar serius menyelidiki semuanya, ia berhasil menemukan siapa yang membuat bahtera misterius. Yeomjong yang ketar-ketir langsung memerintahkan supaya para pembuat perahu dibunuh. Salah seorang diantaranya berhasil lolos, sehingga pria licik itu langsung mengerahkan pasukan panah. Suasana semakin panas ketika salah satu anak panah mengenai Chunchu.
Kejadian tersebut keruan saja membuat Ratu Seon Deok murka, ia sadar bahwa dalang dibalik peristiwa pemanahan tidak hanya berniat menghabisi pembuat perahu melainkan juga Chunchu. Langsung mengumpulkan para pejabat, ia memerintahkan supaya dalang pemanahan diusut tuntas dan diberi hukuman berat sebagai contoh bagi mereka yang berani menyerang keluarga kerajaan.
Tidak puas dengan tindakan Ratu Seon Deok, Chunchu memutuskan untuk mendatangi Bidam. Keduanya terlibat percakapan serius, Chunchu dengan sengaja mengintimidasi Bidam dengan menyebut bahwa meski orang melihat dirinya lemah, sang pangeran selalu menuntaskan masalah sekecil apapun...termasuk menghabisi Daenambo yang telah menghilang sejak pemberontakan Mishil.
Sebelum pergi, Chunchu membenarkan ucapan Bidam kalau dirinya sempat takut pada sang perdana menteri. Namun, semua itu adalah masa lalu, saat tindakan Bidam masih belum bisa diprediksi. Ucapan terakhir Chunchu, yang menyebut bahwa Ratu Seon Deok sebenarnya tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Bidam, langsung memukul mental pria itu.
Saat berjalan kembali ke kediamannya, dalam hatinya Chunchu bergumam bahwa ia tahu betul betapa besarnya cinta dan pengabdian Bidam kepada Ratu Seon Deok. Namun, di sisi lain ia juga tahu bahwa kehadiran Bidam dan pengikutnya akan menghambat cita-cita menyatukan Tiga Kerajaan.
Penyelidikan yang sudah berlangsung membuat Yeomjong ketar-ketir, ia langsung meminta para pengikut Bidam yang lain untuk menggerakkan pasukan. Saat mereka terlihat ogah-ogahan, Yeomjong ternyata telah mengantisipasi semuanya sehingga Misaeng, Bojong (Baek Do-bin), Hajong (Kim Jung-hyun) dan yang lain tidak punya pilihan.
Sadar kalau Bidam sudah tidak bisa lagi mengendalikan para pengikutnya, Ratu Seon Deok meminta pria yang dicintainya itu untuk pergi ke tempat yang jauh. Berjanji bakal memanggil kembali setelah semua masalah selesai, Ratu Seon Deok menyerahkan cincinnya pada Bidam sebelum berpisah.(indosiar.com/mdL)

Senin, 08 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 63

Begitu keluar, Bidam (Kim Nam-gil) langsung disambut Misaeng (Jung Woong-in), Hajong (Kim Jung-hyun), dan Bojong (Baek Do-bin) dengan tatapan curiga. Begitu menggelar rapat di kediamannya, Bidam pura-pura mengaku kalau Ratu Seon Deok belum mengetahui isi pesan rahasia, dan mengancam bakal membunuh siapapun yang berani bertindak di luar perintahnya.

Meski Bidam mengaku masih tetap memiliki ambisi yang sama, ucapan tersebut tidak dipercaya begitu saja oleh anak buahnya. Begitu sang perdana menteri mengutus 10 prajurit untuk misi rahasia, 7 diantaranya ternyata berpihak pada Yeomjong. Begitu diberitahu, Bidam hanya tersenyum karena itu merupakan bagian dari strategi untuk mengetahui siapa yang setia padanya.

Oleh Santak, Bidam diberitahu bahwa Yeomjong tengah melakukan perekrutan untuk pekerjaan tambang secara besar-besaran. Sempat tersenyum, wajah Bidam langsung berubah panik karena tahu ada sesuatu yang tidak beres. Rupanya tanpa sepengetahuan Bidam, Yeomjong dan antek-anteknya tengah mengumpulkan pasukan yang bakal dilatih secara rahasia.

Kecurigaan juga dirasakan oleh Yushin (Uhm Tae-woong), yang langsung mengutus anak buahnya untuk mengikuti gerak-gerik Yeomjong. Meski gagal, keduanya berhasil mendapatkan fakta menarik : beberapa pembunuh bayaran yang ditugaskan menyerang ternyata merupakan anggota dari biro yang sebelumnya dipimpin Bidam.

Meski berusaha menutupi perbuatan anak buahnya, Bidam ditemani Santak berusaha mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Begitu tahu kalau para bawahannya diam-diam menggalang kekuatan, Bidam akhirnya mendatangi Yushin untuk meminjam pasukan dalam jumlah ribuan. Meski sempat heran, Yushin akhirnya menyetujui permintaan Bidam.

Namun belum sempat bertindak, keesokan harinya sebuah kejadian besar membuat rakyat Shilla gempar. Keruan saja, Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) langsung mengumpulkan para bangsawan untuk mencari tahu kejadian apa yang bisa membuat Shilla begitu gempar. Bisa ditebak, kejadian tersebut membuat posisi Bidam semakin terdesak dan jurang antara dirinya dang sang ratu semakin lebar.(indosiar.com/mdL)

Sabtu, 06 Februari 2010

Sweet Love Story

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik-baik saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal dua kali sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal-hal seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik-baik saja selama delapan tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit. Karena jarang makan dan sering jajan di kantornya dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, teman Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan-akan waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat-kalimatnya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki-laki maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. Lima bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat-ingat, 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari tiga kali. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang ponselnya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

"Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? Uhh... dasar anak nakal, sini piringnya," lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba-tiba saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan....aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang ke rumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis. Dia bisa hadir tiba-tiba, membawakan donat buat anak-anak, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan-jalan, kadang mengajakku nonton. Kali lain, dia datang bersama suami dan kedua anaknya yang lucu-lucu.

Aku tidak pernah bertanya apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu. Karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak di hatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti Jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, "Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak-anakku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh-sungguh mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik-konflik terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon-pohon beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan-hutan belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki-laki yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

Yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia tujuh tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa-sisa uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak-anakku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam-macam merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman-temanku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit-sakitan, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura-pura tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian...

Meisha membuka amplop surat-surat itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

"Mario, suamiku....

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku. .. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku.....

Ternyata aku keliru.... aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukaimu.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, "Kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku."

Aku tidak perduli, dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan."

Istrimu,

Rima

Di surat yang lain,

".........Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha...... "

Di surat yang ke sekian,

".......Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah-marah padamu, aku tidak lagi suka membanting-banting barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalu menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah.....

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya.. ......"

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya... dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.

Di surat terakhir, pagi ini...

"........... ...Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang ke rumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujan deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba di rumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran di matamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda-tanda cinta mulai bersemi di hatimu?"

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

"Siang itu Mama menjemputku dengan motornya. Dari jauh aku melihat keceriaan di wajah Mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah-marah kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya di seberang jalan. Ketika Mama menyeberang jalan, tiba-tiba mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi...... Aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante..... Aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak.... .." Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah-marah dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba-tiba aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar.... Inikah tanda-tanda aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak-anakku, tapi karena dia belahan jiwaku....

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk di samping nisan Rima. Di wajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Jumat, 05 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 62

Dengan kemampuan diplomasinya, Misaeng (Jung Woong-in) berhasil mempengaruhi utusan Tang untuk menekan Ratu Seon Deok (Lee Yo-won). Langsung tersenyum licik karena rencananya berjalan mulus, Misaeng diberitahu Yeomjong untuk mau menggunakan oseon alias kipas bulu untuk menyampaikan pesan rahasia.

Kedatangan utusan Tang langsung disambut dengan gembira oleh Ratu Seon Deok, namun semua berubah ketika sang utusan malah menyindir kerajaan Shilla yang dipimpin oleh seorang wanita. Tidak mau kalah gertak, Ratu Seon Deok dengan tegas menyuruh para utusan untuk ditahan. Tidak cuma itu, ia juga menyatakan siap memutuskan hubungan dengan kerajaan Tang.
Keputusan tersebut tidak hanya mengejutkan utusan Tang, namun juga Misaeng. Dengan wajah pucat, ia langsung berembuk dengan rekan-rekannya untuk mencari cara menghubungi sang utusan yang ditahan. Sayang, usaha mereka terbentur oleh satu orang : Alcheon (Lee Seung-hyo), yang ditugaskan untuk menjaga tahanan dengan ketat.

Ratu Seon Seok ternyata memiliki segudang strategi, dengan sengaja ia membiarkan para penjaga disogok untuk mengetahui siapa dalang dibalik semua kejadian. Strateginya berhasil, utusan Tang menyerahkan pesan rahasia yang disimpan dalam oseon (kipas bulu) untuk disampaikan ke kubu Bidam.

Kipas bulu tersebut nyatanya diserahkan oleh penjaga yang disogok ke Ratu Seon Deok. Mulai memikirkan strategi apa yang tengah dilancarkan oleh musuh, sang ratu diberitahu Chunchu (Yoo Seung-ho) akan strategi kipas bulu yang pernah dipelajarinya saat berada di pengasingan. Dugaannya tepat, kipas tersebut menyimpan pesan rahasia...yang ditujukan pada Bidam (Kim Nam-gil).

Chunchu sangat marah begitu membaca isi pesan utusan Tang, ia meminta Ratu Seon Deok untuk menghukum Bidam seberat-beratnya karena berniat melakukan pemberontakan. Melihat sang ratu ragu-ragu, Chunchu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dan langsung keluar ruangan tanpa bicara lagi.

Di kediamannya, Bidam langsung termenung begitu tahu para pengikutnya sangat berambisi menjadikan dirinya sebagai raja. Bernia untuk menjelaskan semuanya, Bidam mendatangi istana Ratu Seon Deok namun kehadirannya ditolak. Untuk mencegah masalah semakin rumit, ia ganti mengunjungi tempat dimana utusan Tang ditahan. Bisa dibayangkan, bagaimana terkejutnya Bidam saat tahu kipas bulu berisi pesan rahasia sudah jatuh ke tangan Ratu.

Fakta tersebut membuat Bidam lemas, ia langsung teringat akan apa yang pernah dilakukan gurunya Munno yang mengacuhkannya setelah membuat kesalahan besar. Namun ia tetap ngotot ingin membuktikan dirinya tidak bersalah, dan kembali hadir di istana Ratu Seon Deok. Suasana sempat berlangsung canggung, karena di tempat itu ternyata sudah ada Chunchu, Yushin (Uhm Tae-woong), dan Alcheon.

Dengan jujur, Bidam mengaku kalau pesan rahasia di kipas utusan Tang tidak ada hubungan dengan dirinya. Sudah tentu, ucapannya langsung disambut oleh rasa tidak percaya. Secara mengejutkan, hanya satu suara yang menyatakan percaya : Ratu Seon Deok. Dengan gembira, Bidam menyebut dirinya akan mengatasi 'pemberontakan' yang dilakukan para anak buahnya.

Begitu keluar, Bidam langsung disambut Misaeng, Hajong (Kim Jung-hyun), dan Bojong (Baek Do-bin) dengan tatapan curiga. Begitu menggelar rapat di kediamannya, Bidam pura-pura mengaku kalau Ratu Seon Deok belum mengetahui isi pesan rahasia, dan mengancam bakal membunuh siapapun yang berani bertindak di luar perintahnya.(indosiar.com/mdL)

Perbedaan antara Suka... Sayang... dan Cinta !

Suka adalah saat kamu ingin memiliki seseorang. . .
Sayang adalah saat kamu ingin membahagiakan orang itu. . .
Dan Cinta adalah saat kamu akan berkorban untuk orang itu . . .
Saat kamu bersedih dan menangis maka seseorang yg "menyukaimu" 
akan berkata 'sudahlah jangan menangis lagi'
tapi seseorang yang 'menyayangi' akan diam dan ikut menangis bersamamu . . . 
Dan seseorang yang 'mencintaimu' akan membiarkanmu menangis dan 
menunggumu hingga tenang lalu berkata 'mari kita selesaikan ini bersama'
saat seseorang yang menyukaimu berada disampingmu maka dia akan 
bertanya 'bolehkah aku menciummu?'
tapi seseorang yang menyayangimua maka dia akan berkata 
'biarkan aku memelukmu'
dan seseorang yang mencintaimu takkan berbicara..dia hanya akan selalu 
memegang erat tanganmu seakan dia takkan mau membiarkanmu terjatuh . . .
Saat kamu menyukai seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu 
akan marah dan takkan mau lagi berbicara dengannya..
Tapi jika kamu menyayangi seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka 
kamu akan menangis karenanya..
Dan jika kamu mencintai seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka 
kamu akan tersenyum walau itu pahit dan berkata 'dia hanya belum tahu 
apa yg dia lakukan' Suka hanyalah keegoisan diri sendiri.
Sayang adalah memberi dan menerima..
Dan Cinta adalah rela berkorban.
Suka hanya akan berbuat jika itu menyenangkan..
Sayang berbuat karena ingin selalu ada untuknya..
Dan Cinta berbuat karena tak ingin membuatnya terluka tak peduli bagaimana keadaan kita.

Kamis, 04 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 61

Penyergapan yang dilakukan Yushin (Uhm Tae-woong) berlangsung serentak alias ditujukan pada kedua pasukan berkuda Baekje. Bahkan dengan teknologi yang baru, busur panah Shilla mampu menjangkau jarak yang lebih jauh. Di medan pertempuran, duel antara Yushin dan Gyabaek tidak bisa dihindari lagi.
Di istana, Bidam (Kim Nam-gil) gembira setelah diangkat sebagai perdana menteri. Untuk membuktikan pengabdiannya yang ikhlas kepada Ratu Seon Deok (Lee Yo-won), Bidam membuat surat perjanjian yang menyebut bakal meninggalkan Shilla dan menjadi pertapa bila sang ratu lebih dulu mangkat. Sambil tersenyum lebar, Bidam mengaku sangat lega karena sudah tahu apa yang membuat Ratu Seon Deok menjauhinya.
Sama-sama kuat, pertarungan antara Yushin dan Gyebaek berlangsung seimbang. Namun pelan-pelan, pasukan Shilla mulai diatas angin sehingga Gyebaek terpaksa memerintahkan anak buahnya untuk mundur. Kabar tersebut terdengar hingga Seorabol, dimana Bidam dengan jitu telah menyiapkan strategi untuk mengakhiri perang antara dua negara.
Kemenangan Yushin dan Wolya (Joo Sang-wook) disambut gembira oleh Ratu Seon Deok, yang langsung memerintahkan keduanya untuk mulai mengembangkan senjata. Perang dengan Baekje membuat sang ratu sadar kalau keputusannya untuk memprioritaskan besi sebagai alat pertanian dan bukan senjata adalah kekeliruan besar.
Dengan tegas, Ratu Seon Deok memutuskan agar pasukan yang sebelumnya dikomandoi Bidam diserahkan sepenuhnya di bawah kendali dewan pimpinan Yushin. Keputusan tersebut sempat ditentang, namun siapa sangka Bidam sendiri yang justru membela keputusan Ratu Seon Deok. Kejutan masih belum selesai, sang ratu juga menyebut bakal segera menikah... dengan Bidam.
Kedua kubu langsung bereaksi keras, Chunchu (Yoo Seung-ho) mulai kuatir dengan strategi sang bibi yang dianggap berpotensi membawa kekacauan. Sementara di tempat lain, kubu Bidam pimpinan Misaeng (Jung Woong-in) bersikap hati-hati karena mereka sadar betul hampir semua keputusan Ratu Seon Deok diambil dengan rencana matang.
Satu-satunya orang yang memberi selamat dengan tulus adalah Yushin, yang menyebut kehadiran Bidam setidaknya bisa membuat Ratu Seon Deok tidak kesepian lagi. Bahkan saat berpapasan dengan Bidam, yang telah berulang kali berusaha mencelakainya, Yushin mampu mengucapkan kata selamat tanpa maksud buruk sedikitpun.
Perubahan sifat Bidam akibat perlakuan Ratu Seon Deok membuat pria itu mengambil keputusan berani : menyerahkan peta geografi Tiga Kerajaan yang disusun mendiang Munno kepada Yushin. Bidam tidak sadar bahwa niatnya untuk berubah bakal mendapat hambatan besar terutama dari Yeomjong dan orang-orang yang berpihak pada dirinya.
Begitu bertemu dengan Ratu Seon Deok, Chunchu menyuarakan kekuatiran kalau Bidam akan ingkar janji. Untuk menentramkan hati sang keponakan, Ratu Seon Deok menunjukkan surat yang telah dibuat Bidam ditambah titah resmi darinya yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan Raja Jinheung terhadap Mishil puluhan tahun sebelumnya.
Yeomjong yang panik langsung menggeledah kamar Bidam, dan menemukan surat perjanjian rahasia pria itu dengan Ratu Seon Deok. Dengan cepat, ia mengumpulkan para bangsawan yang berpihak pada Bidam demi mencegah sang majikan menjalankan niatnya. Sesuai kesepakatan bersama, Misaeng dan Yeomjong mulai menyiapkan strategi.
Hubungan Bidam dan Ratu Seon Deok semakin dekat. Menjelang rencana pernikahan mereka yang semakin dekat, Bidam tidak malu-malu lagi menunjukkan perhatiannya pada sang wanita yang dicintai. Dengan lembut, pria itu menarik tangan sang ratu dan menyuruhnya beristirahat.
Menaruh telapak tangannya di dada Ratu Seon Deok, Bidam tersenyum lembut dan mengatakan tidak akan beranjak hingga sang ratu tertidur pulas. Mendapat perhatian dari seorang pria setelah sekian lama membentengi diri, Ratu Seon Deok semakin terlena dan jatuh cinta pada Bidam.(indosiar.com/mdL)

Rabu, 03 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 60

Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) ternyata punya rencana sendiri, ia memutuskan untuk bertahan dan mengirim Chunchu (Yoo Seung-ho) ke tempat persembunyian. Keputusan itu ditentang oleh Chunchu, namun Ratu Seon Deok langsung menenangkan dengan mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan Bidam (Kim Nam-gil) berkuasa.
Begitu keputusan tersebut disampaikan ke Bidam, pria itu masih berusaha mengubah pendirian Ratu Seon Deok. Begitu sang ratu menolak, Bidam merasa sakit hati karena tahu dirinya sudah tidak lagi mempercayainya. Setelah Bidam melangkah pergi, Ratu Seon Deok langsung teringat dengan momen-momen yang terjadi antara dirinya dengan Bidam, termasuk ketika sang orang kepercayaan memeluknya erat-erat.
Setelah mendapat laporan dari Godo (Ryu Dam), yang terluka, Yushin (Uhm Tae-woong) langsung mengumpulkan para jendral untuk membahas soal pasukan berkuda Baekje yang kecepatannya di luar perkiraan. Curiga kalau pasukannya telah ditipu, Yushin bersiasat untuk menggiring pasukan Baekje melewati medan berlumpur. Saat tengah digiring untuk menuju tempat yang telah ditentukan, Yushin mendapat laporan kalau pasukan Baekje mendadak mundur.
Tak berapa lama, dari arah belakang pasukan yang sama tiba-tiba muncul sehingga membuat tentara Shilla kocar-kacir. Kejadian tersebut membuat mata Yushin terbuka bahwa selama ini pasukan Baekje ternyata bukan hantu seperti yang diduga melainkan karena mereka memiliki dua unit yang berseragam identik. Sambil tersenyum, Yushin langsung memerintahkan Wolya (Joo Sang-wook) untuk mempersiapkan pasukan demi melakukan strategi balasan.
Ratu Seon Deok akhirnya bicara terus-terang kepada Bidam tentang kesepian yang dirasakannya sejak memutuskan untuk kembali ke istana, mulai dari tidak punya nama (gelar Ratu Seon Deok, dan para raja-raja sebelumnya, diberikan setelah yang bersangkutan wafat) hingga tidak bisa bersikap sebagaimana layaknya manusia biasa. Sambil berbicara, Ratu Seon Deok terus meneteskan air mata.
Dengan wajah sendu, Ratu Seon Deok meminta Bidam, orang terakhir yang memperlakukan dirinya sebagai wanita normal, untuk selalu berada di sisinya. Begitu dipeluk, kali ini Ratu Seon Deok tidak lagi menahan diri dan langsung membalas pelukan Bidam.
Keesokan harinya, keputusan besar diambil Ratu Seon Deok. Di hadapan para pejabat, ia mengumumkan pencopotan jabatan Kim Yongchun (Do Yi-sung) dan mengalihkan posisi perdana menteri kepada Bidam. Sudah tentu keputusan tersebut langsung ditentang Chunchu, namun seperti biasa, Ratu Seon Deok ternyata punya rencana sendiri yang sulit ditebak.
Posisi prajurit Shilla semakin genting, tentara Baekje pimpinan Gyebaek yang sudah merasa di atas angin langsung memutuskan untuk menghabisi sang musuh dengan menyerang tenda. Gyebaek tidak sadar kalau dirinya sudah masuk ke perangkap Yushin.(indosiar.com/mdL)

Mengenal Karakter Pria Lewat Mr P - nya ??

Menilai Karakter Pasangan Anda? Ada banyak cara menilai karakter pasangan Anda. Mulai dari raut wajah, garis tangan hingga pada organ reproduksinya. Dari bentuk Mr P yang dimiliki, dapat terlihat karakter sifat pasangan Anda.
Adalah Phallomacy sebuah istilah untuk menilai karakter pria dan gaya bercinta melalui bentuk Mr P. Seperti yang dikutip dari Askmen.Com, selain ukuran yang menjadi keperkasaan pria, Mr. Dick juga dapat menilai karakter pasangan Anda.
Penasaran ingin tahu? Berikut paparannya;

Mr.P agak bengkok ke kanan
Pria yang memiliki Mr. P seperti ini termasuk pria yang suka memanjakan pasangannya. Namun dia memiliki sifat cenderung terbuka. Tetapi, Anda juga harus berhati-hati, karena tipe pria ini tidak segan-segan membuka urusan kamar tidurnya kepada teman-temanya. Hmmmm.... cukup berisiko!

Mr. P agak bengkok ke kiri
Tipe pria ini senang menerima apa adanya dan jarang menuntut. Namun pria seperti ini agak sensitif, jadi Anda membutuhkan upaya agak keras untuk menjaga hatinya yang peka.


Mr.P berbentuk gemuk pada pangkal
Tipe pria seperti ini, sangat mandiri dan anti sekali menerima bantuan dari orang lain. Hal ini juga sangat tercemin di dalam urusan bercinta. Pria seperti ini suka mendominasi pasangannya.


Mr. P gemuk dengan ujung tumpul
Tipe pria ini suka merencanakan sesuatu sebelum bertindak. Pria seperti ini bukan sosok yang impulsif berdasarkan kata hati. Tetapi sebaliknya tindakannya dilakukan melalui pemikiran matang. Dia lebih suka banyak bertindak dibandingkan hanya berbicara. Ups... macho sekali!


Mr. P ramping dengan ujung runcing
Pria ini tergolong pria yang romantis dan sangat detail. Agak sensitif namun sulit mengungkapkan isi hatinya. Jika memiliki pasangan seperti ini, berarti Anda harus pintar-pintar menebak isi hatinya dan tahu menempatkan diri.

Bagaimana? Apakah cocok dengan tipe pasangan Anda dengan Mr. P nya ??

Smadav 2010 Rev. 8.0

Smadav 2010 Rev. 8.0
Size : 421 kb.


Smadav 2010 Rev. 8 dirilis dengan berbagai fitur dan penyempurnaan baru yang dikhususkan untuk pemberantasan virus lokal. Fitur-fitur itu seperti Smad-Behavior yang bisa mengenali virus lokal baru yang belum ada di database Smadav dari tingkah lakunya ketika menginfeksi sistem. Smad-Ray yang bisa melakukan scan flashdisk secara otomatis setelah terpasang hanya dalam waktu maksimum 5 detik. Smadav 2010 lebih stabil dan sangat disarankan untuk digabungkan dengan antivirus internasional karena Smadav hanya bisa menangani virus lokal. Pengebalan flashdisk (menggunakan folder autorun.inf) telah disempurnakan lagi dan sebelumnya akan ada konfirmasi sehingga Anda bisa memutuskan apakah suatu flashdisk ingin dikebalkan atau tidak.

The Great Queen Seon Deok Episode 58

Setelah mengirim Bojong (Baek Do-bin) ke benteng Daeya, Bidam (Kim Nam-gil) menghadap Ratu Seon Deok (Lee Yo-won). Tidak disangka-sangka, Ratu Seon Deok menanyakan apakah Bidam jatuh cinta pada dirinya. Sempat menunduk, Bidam akhirnya menjawab YA.
Pembicaraan keduanya terpotong oleh kedatangan Yeomjong, yang mengabarkan kalau prajurit Baekje telah menyerang benteng Daeya. Perkiraan yang pernah disampaikan Yushin (Uhm Tae-woong) tidak salah, ada pengkhianat di dalam benteng yang membukakan pintu gerbang sehingga prajurit Baekje berhasil masuk tanpa kesulitan berarti.
Dengan cepat, Ratu Seon Deok menggelar rapat bersama para bangsawan. Tiba-tiba Bidam muncul, dan mengusulkan supaya pasukan pimpinan Yushin dikerahkan ke medan perang. Sontak terjadi pertentangan, pasalnya Yushin sendiri telah didakwa sebagai kriminal. Bidam ternyata telah menyiapkan strategi yang matang, ia menyodorkan satu nama sebagai pemimpin pasukan yang baru : Seolwon (Jun Noh-min).
Dengan gagah, Seolwon masuk ke balairung istana, berlutut di hadapan Ratu Seon Deok, sambil berikrar tidak akan kembali dengan selamat bila gagal menyelamatkan benteng Daeya. Penunjukan tersebut langsung ditentang oleh anak buah Yushin, namun Yushin langsung mengingatkan para bawahannya untuk memberitahu Seolwon agar mewaspadai Baekje yang persenjataan dan strateginya telah berkembang pesat.
Rupanya, Yushin sadar betul bahwa memiliki pengalaman segudang, Seolwon selama beberapa tahun belakangan hampir tidak pernah terjun ke medan perang lagi. Sementara itu di istana, Bidam telah menyusun strategi matang di pos-pos strategis Shilla untuk menangkal serangan Baekje sambil berikrar siap menyelamatkan Ratu Seon Deok, Shilla, dan rakyatnya.
Saat bicara dengan Ratu Seon Deok, Seolwon meminta supaya dirinya ditunjuk sebagai pemimpin militer bila misinya menaklukkan Baekje sukses. Mengaku apa yang dilakukannya adalah demi cita-cita menyatukan tiga kerajaan, Seolwon juga meminta supaya Ratu Seon Deok mau menikahi Bidam.
Hanya Bojong yang tahu bahwa Seolwon kerap merasakan sakit di bagian dadanya. Dinasehati sang putra untuk tidak terlalu menuruti permintaan terakhir Mishil, Seolwon yang memang prajurit sejati hanya tersenyum sambil mengatakan bahwa dirinya sangat bergairah menghadapi perang melawan Baekje. Percaya bakal memenangkan pertarungan, Seolwon menyebut bahwa meski hebat, Yoongchun jendral Baekje tidak akan mampu menyamai prestasinya di medan perang.
Tanpa diketahui siapapun, Seolwon menyempatkan diri berdoa di depan altar Mishil. Seolwon bergumam kalau Bidam sangat mirip dengan sang junjungan yang telah meninggal karena bunuh diri dan dengan mata berkaca-kaca, sang mantan jendral besar bakal memenuhi permintaan terakhir sang penjaga segel agar Bidam bisa berkuasa sambil mengaku kalau dirinya sangat kehilangan sosok Mishil.
Keesokan harinya, dengan gagah Seolwon dan pasukannya berangkat ke benteng Daeya. Untuk menjaga kemungkinan terburuk, Ratu Seon Deok memerintahkan Jukbang (Lee Moon-shik) untuk mengecek ulang laporan yang pernah diberikan Yushin tentang kekuatan kerajaan Baekje. Tidak cuma itu, sang ratu ternyata juga memberi tugas baru pada Jukbang.
Dengan bantuan Shantak (Kang Sung-pil), Jukbang akhirnya bisa menyusup masuk ke penjara untuk bertemu Changi, mantan anak buah Yushin yang juga keturunan bangsa Gaya. Oleh Changi, Jukbang diajari bahasa sandi yang kerap digunakan bangsa Gaya untuk saling berhubungan. Berbekal pengetahuan tersebut, Jukbang mengirim sandi yang ditujukan pada Bokyahwei alias pemberontak Gaya pimpinan Wolya (Joo Sang-wook).(indosiar.com/mdL)

The Great Queen Seon Deok Episode 59

Malam harinya, tiga orang muncul dan langsung dikepung oleh para prajurit Bokyahwei alias pemberontak Gaya. Seorang diantaranya, yang ternyata adalah Alcheon (Lee Seung-hyo) langsung menghunus pedang sebelum kemudian salah seorang didekatnya (yang mengenakan cadar) berusaha menenangkan.
Ternyata, dua orang tersebut adalah Chunchu (Yoo Seung-ho) dan Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) sendiri. Negosiasi berlangsung alot, sang ratu meminta Wolya (Joo Sang-wook) dan Seolji (Jung Ho-geun) menyerah dan seluruh pasukan dilimpahkan dibawah komando Chunchu dengan imbalan semua dosa Bokyahwei diampuni. Bila menolak, mana Yushin (Uhm Tae-woong), dan disusul rakyat Gaya, bakal dihukum mati. Langsung diam seribu bahasa, Wolya hanya diberi waktu tiga hari untuk mengambil keputusan.
Begitu kembali ke istana, Alcheon langsung menegur Ratu Seon Deok yang dianggap gegabah. Namun sang ratu ternyata punya alasan kuat, ia melakukan semuanya supaya bisa kembali menggandeng Yushin. Sebagai kartu as, Ratu Seon Deok menugaskan Jukbang untuk menyusupkan seseorang ke markas para pemberontak.
Berita mengejutkan diperoleh Ratu Seon Deok : prajurit Yushin yang dikenal perkasa pulang dengan membawa kekalahan sementara Seolwon (Jun Noh-min) terluka parah. Dengan tersengal-sengal di pembaringannya, Seolwon berpesan pada Bidam untuk mau menuruti keinginan terakhir Mishil yang pernah disampaikan. Setelah itu, sang jendral besar yang telah mengabdi pada empat penguasa Shilla tersebut wafat.
Sebelum meninggal, Seolwon sempat menitipkan surat pada Yushin yang berisi tentang kehebatan pasukan Baekje. Meninggalnya Seolwon membuat kubu Bidam (Kim Nam-gil) berduka, dan siapa sangka orang yang menangis paling kencang justru adalah Hajong (Kim Jung-hyun). Akibat hasil peperangan yang tidak terduga, permintaan publik dan para bangsawan agar Yushin kembali memimpin pasukannya dalam pertempuran melawan Baekje semakin  menguat.
Keruan saja Bidam, yang merasa iri, marah, ia menganggap Yushin yang dianggap sebagai pengkhianat tidak pantas untuk memimpin peperangan menyelamatkan Shilla. Datang ke penjara karena Yushin meminta waktu untuk bertemu, Bidam menatap sang jendral dengan sebelah mata. Keruan saja Yushin kesal dan langsung menarik kerah bajunya, ia menyebut siap melepaskan semua yang dimiliki mulai dari kekuatan pasukan hingga jabatan asalkan Bidam lebih dulu mau menyelamatkan Shilla.
Berdasarkan masukan dari Yushin, Bidam mengajukan usulan yang hanya diangguki oleh Ratu Seon Deok. Rupanya, sang ratu lebih menanti saat untuk kembali bertemu dengan Wolya. Lama menunggu namun Wolya tidak juga muncul, Ratu Seon Deok nekat mendatangi markas Bokyahwei dengan hanya ditemani Alcheon. Untuk membuktikan ketulusannya, Ratu Seon Deok mengeluarkan buku berisi nama-nama bangsa Gaya dan membakarnya didepan Wolya.
Saat Wolya masih ragu-ragu, tiba-tiba pasukan yang dipimpin oleh Chunchu muncul. Dengan suara tegas dan berwibawa, Ratu Seon Deok memerintahkan Chunchu untuk bisa membujuk Wolya dan bila gagal maka dirinya, Wolya, dan bangsa Gaya tidak akan bisa melihat hari esok.
Posisi Shilla semakin kritis ketika benteng-benteng strategis mereka tidak mampu menahan serangan Baekje, namun secercah harapan muncul. Bersama pasukannya, Wolya dan Seolji muncul di istana dan berlutut sambil menyatakan sumpah setia pada Ratu Seon Deok dan Chunchu. Kejutan tidak hanya sampai disitu, Ratu Seon Deok menunjuk Yushin untuk memimpin pertempuran melawan Baekje. Keruan saja, keputusan sang ratu membuat Bidam, yang telah menyiapkan strategi, terpukul.(indosiar.com/mdL)

Senin, 01 Februari 2010

NOD32 Antivirus 4.2.22.0 Beta

ESET NOD32 Antivirus adalah perlindungan yang paling efektif untuk memerangi ancaman virus dari internet dan email. Antivirus ini adalah antivirus komprehensif dan menyediakan perlindungan antivirus dan antispyware tanpa mempengaruhi kinerja komputer Anda.

Menggunakan teknologi canggih ThreatSense ®, ESET NOD32 Antivirus secara proaktif melindungi Anda dari serangan baru, bahkan selama jam kritis pertama ketika vendor lain tidak menyadari adanya serangan.   ESET NOD32 Antivirus mendeteksi dan menonaktifkan  virus yang dikenal maupun tidak , seperti trojan, worms,adware, spyware, rootkits dan ancaman internet lainnya.

ESET NOD32 Antivirus juga merupakan salah satu solusi yang paling tepat, begitu cepat sehingga Anda tidak akan menyadarinya. Dan keduanya sangat mudah digunakan dan sederhana untuk menyesuaikan untuk kebutuhan anda secara spesifik .

Manfaat ESET NOD32 Antivirus :
  • Perlindungan dari benda asing
  • Menemukan Malware Perusaan AV yang lain
  • Membangun Kecepatan
  • Mudah digunakan pada sistem Anda

Click Here To Download this antivirus software