RSS

Rabu, 03 Februari 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 59

Malam harinya, tiga orang muncul dan langsung dikepung oleh para prajurit Bokyahwei alias pemberontak Gaya. Seorang diantaranya, yang ternyata adalah Alcheon (Lee Seung-hyo) langsung menghunus pedang sebelum kemudian salah seorang didekatnya (yang mengenakan cadar) berusaha menenangkan.
Ternyata, dua orang tersebut adalah Chunchu (Yoo Seung-ho) dan Ratu Seon Deok (Lee Yo-won) sendiri. Negosiasi berlangsung alot, sang ratu meminta Wolya (Joo Sang-wook) dan Seolji (Jung Ho-geun) menyerah dan seluruh pasukan dilimpahkan dibawah komando Chunchu dengan imbalan semua dosa Bokyahwei diampuni. Bila menolak, mana Yushin (Uhm Tae-woong), dan disusul rakyat Gaya, bakal dihukum mati. Langsung diam seribu bahasa, Wolya hanya diberi waktu tiga hari untuk mengambil keputusan.
Begitu kembali ke istana, Alcheon langsung menegur Ratu Seon Deok yang dianggap gegabah. Namun sang ratu ternyata punya alasan kuat, ia melakukan semuanya supaya bisa kembali menggandeng Yushin. Sebagai kartu as, Ratu Seon Deok menugaskan Jukbang untuk menyusupkan seseorang ke markas para pemberontak.
Berita mengejutkan diperoleh Ratu Seon Deok : prajurit Yushin yang dikenal perkasa pulang dengan membawa kekalahan sementara Seolwon (Jun Noh-min) terluka parah. Dengan tersengal-sengal di pembaringannya, Seolwon berpesan pada Bidam untuk mau menuruti keinginan terakhir Mishil yang pernah disampaikan. Setelah itu, sang jendral besar yang telah mengabdi pada empat penguasa Shilla tersebut wafat.
Sebelum meninggal, Seolwon sempat menitipkan surat pada Yushin yang berisi tentang kehebatan pasukan Baekje. Meninggalnya Seolwon membuat kubu Bidam (Kim Nam-gil) berduka, dan siapa sangka orang yang menangis paling kencang justru adalah Hajong (Kim Jung-hyun). Akibat hasil peperangan yang tidak terduga, permintaan publik dan para bangsawan agar Yushin kembali memimpin pasukannya dalam pertempuran melawan Baekje semakin  menguat.
Keruan saja Bidam, yang merasa iri, marah, ia menganggap Yushin yang dianggap sebagai pengkhianat tidak pantas untuk memimpin peperangan menyelamatkan Shilla. Datang ke penjara karena Yushin meminta waktu untuk bertemu, Bidam menatap sang jendral dengan sebelah mata. Keruan saja Yushin kesal dan langsung menarik kerah bajunya, ia menyebut siap melepaskan semua yang dimiliki mulai dari kekuatan pasukan hingga jabatan asalkan Bidam lebih dulu mau menyelamatkan Shilla.
Berdasarkan masukan dari Yushin, Bidam mengajukan usulan yang hanya diangguki oleh Ratu Seon Deok. Rupanya, sang ratu lebih menanti saat untuk kembali bertemu dengan Wolya. Lama menunggu namun Wolya tidak juga muncul, Ratu Seon Deok nekat mendatangi markas Bokyahwei dengan hanya ditemani Alcheon. Untuk membuktikan ketulusannya, Ratu Seon Deok mengeluarkan buku berisi nama-nama bangsa Gaya dan membakarnya didepan Wolya.
Saat Wolya masih ragu-ragu, tiba-tiba pasukan yang dipimpin oleh Chunchu muncul. Dengan suara tegas dan berwibawa, Ratu Seon Deok memerintahkan Chunchu untuk bisa membujuk Wolya dan bila gagal maka dirinya, Wolya, dan bangsa Gaya tidak akan bisa melihat hari esok.
Posisi Shilla semakin kritis ketika benteng-benteng strategis mereka tidak mampu menahan serangan Baekje, namun secercah harapan muncul. Bersama pasukannya, Wolya dan Seolji muncul di istana dan berlutut sambil menyatakan sumpah setia pada Ratu Seon Deok dan Chunchu. Kejutan tidak hanya sampai disitu, Ratu Seon Deok menunjuk Yushin untuk memimpin pertempuran melawan Baekje. Keruan saja, keputusan sang ratu membuat Bidam, yang telah menyiapkan strategi, terpukul.(indosiar.com/mdL)

0 komentar:

Posting Komentar

Please comment in here.
Terima kasih sudah berkunjung ke blog chencha.