RSS

Kamis, 14 Oktober 2010

Catatan chen cha :14 Oktober 2010

Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya
(Mazmur 28:7)

KU TAK KAN MENYERAH

   Suatu hari saya mengamati sebuah pohon. Daunnya hijau, segar. Daun-daun itu
bertumbuh: makin lebar, makin panjang, makin tua. Ada yang mengilap, ada
yang berlubang, tetapi masih terus bertumbuh. Pengamatan ini ternyata
sangat bermakna bagi saya. Bukankah hidup iman kita mirip daun-daun itu?
Selama kita melekat kepada Kristus, kita bagai daun yang bertumbuh dan
mendapat makanan dari pohonnya.
Namun, apabila kita menjauh dari-Nya, maka
kita bagai daun yang dipetik lepas dari pohon
. Mungkin masih terlihat
hijau, tetapi sudah tak ada pertumbuhan, dan tak lama lagi akan mati.

   Daud, meskipun beberapa kali mengalami kegagalan dalam hidupnya, tetap
berusaha untuk kembali melekat kepada Tuhan. Ketika ia harus menghadapi
pengalaman yang berat dan sulit, salah satunya saat ia dikejar-kejar Saul
dan pasukannya, Daud mengungkap bahwa kekuatan sejatinya ialah Tuhan (ayat
7). Ia mengaku bahwa tanpa Tuhan, ia tidak akan kuat menanggung
persoalan-persoalan di hadapannya. Daud tidak memiliki banyak senjata,
tetapi Tuhanlah yang menjadi perisainya. Tanpa Tuhan, tidak ada yang
sanggup melindunginya dari serangan musuh. Daud terus berjuang. Dan, ia
tidak menyerah sebab ia tahu kekuatannya ada pada Tuhan (ayat 8).

   Bagaimana dengan kita? Apabila ada persoalan berat di depan kita, apa yang
menjadi kekuatan atau senjata kita? Apabila akhirnya kekayaan, kesehatan,
kedudukan, kemampuan istimewa, dan hal-hal lain yang terbatas tak lagi
mampu menolong kita, jangan menyerah. Selama kita terus melekat pada
Kristus, Dia ada dan patut kita andalkan 

KRISTUS MENEBUS KITA DENGAN MENCUCURKAN DARAH
AGAR KITA TAK MENJADI ORANG YANG MUDAH MENYERAH

Kamis, 07 Oktober 2010

Catatan Chen Cha : 7 Oktober 2010

1 Samuel 30:8
Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."

Dalam 1 Samuel 30, dikisahkan bahwa orang Amalek menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag, dan perempuan-perempuan serta semua orang dikota itu ditawan oleh orang Amalek, termasuk anak dan istri Daud.
Ketika Daud dan pasukannya sampai di kota itu dan tahu bahwa anak dan istri mereka telah ditawan Amalek, mereka sangat sedih dan marah. Bahkan dalam kemarahan mereka, rakyat Israel hendak melempari Daud dengan batu. Namun dalam keadaan terjepit seperti ini, Daud menguatkan  kepercayaannya kepada Tuhan.
Daud kemudian berdoa, “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Sebelum bertindak, Daud bertanya apakah yang ia lakukan adalah rencana Tuhan. Dia menunggu jawaban Tuhan, baru kemudian bertindak.  
Daud tidak bertindak gegabah dalam usahanya untuk menyelamatkan mereka yang tertawan dan menenangkan rakyat yang bersama dia. Yang pertama kali ia lakukan adalah menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, dan meminta petunjuk dari Tuhan tentang apa yang harus ia lakukan.
Seberapa sering kita berdoa seperti Daud? Ketika keadaan menekan hidup kita, apakah kita lari dari Tuhan atau kita lari kepada Tuhan? 
Mari belajar kepada Daud, kita lari kepada Tuhan memohon petunjuk dari-Nya atas segala permasalahan kita. Tuhan adalah solusi kehidupan Anda, Dia dapat Anda percaya.
Saat masalah menerpa hidup Anda, jangan lari menjauh dari Tuhan namun larilah kepada Tuhan.